7.21.2017

Makalah GAKI 2

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Definisi GAKI

Gangguan akibat kekurangan iodium (iodine deficiency disorder) adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan iodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid mengakibatkan timbul gondok, hipotiroid, kretin, gangguan reproduksi, kematian bayi dan keterbelakangan mental. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) adalah sekumpulan gejala atau kelainan yang ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan iodium secara terus – menerus dalam waktu yang lama yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup (manusia dan hewan) (DepKes RI, 1996).

Makin banyak tingkat kekurangan iodium yang dialami makin banyak komplikasi atau kelainan yang ditimbilkannya, meliputi pembesaran kelenjar tiroid dan berbagai stadium sampai timbul bisu-tuli dan gangguan mental akibat kretinisme. Masalah ini umumnya lebih banyak terjadi di daerah pegunungan dimana makanan yang dikonsumsinya sangat tergantung dari produksi makanan yang berasal dari tanaman setempat yang tumbuh pada kondisi tanah dengan kadar iodium rendah. Masalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masalah yang serius mengingat dampaknya secara langsung mempengaruhi kelangsungan hidup dan kulitas manusia. Kelompok masyarakat yang sangat rawan terhadap masalah dampak defisiensi iodium adalah wanita usia subur (WUS) ; ibu hamil ; anak balita dan anak usia sekolah.

Data tahun 1998 menunjukkan 87 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah endemic GAKI. Akibatnya tak kurang dari 20 juta penduduk menderita gondok. GAKI pada ibu hamil berisiko menimbulkan keguguran, sedangkan pada janin menyebabkan lahir mati. Kalaupun lahir, beresiko mengalami cacat bawaan, kematian dini, kretin, keterbelakangan mental, tuli juling dan lumpuh. Diperkirakan tiap tahun ada 9 ( sembilan ) bayi kretin lahir di Indonesia. Sejauh ini Indonesia telah kehilangan 140 juta point ( Kompas, 2002 ).


2.2 Etiologi GAKI

Yodium dalam tubuh berada dalam bentuk Iodida (I2). Menyusun tubuh kurang lebih 15-20 mg, sangat bervariasi antar individu, tergantung wilayah tempat tinggal (kandungan yodium dalam tanah, air, tanaman, dan pangan sumber yodium yang dikonsumsi. Fungsi yodium dalam tubuh, bersama hormon-hormon tiroid, adalah : berperan dalam mengatur suhu tubuh, laju pelepasan energi selama metabolisme basal (BMR), laju penggunaan oksigen oleh sel, pertumbuhan, perkembangan sistem syaraf, pertumbuhan linier, dan pembentukan panas tubuh. Penyerapan yodium sangat cepat dan mudah. Yodium terutama terkonsentrasi pd kelenjar tiroid (70-80%)yang berperan dalam pembentukan hormon T3-triiodothyronin dan T4–tetra Iodothyronine/tyroxin. Pelepasan hormon tiroid ke dlm darah dipacu oleh TSH (Thyroid Stimulating Hormon).

Faktor – Faktor penyebab masalah GAKI antara lain :
Faktor Defisiensi Iodium dan Iodium Excess
Defisiensi iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah GAKI. Hal ini disebabkan karena kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur iodium dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Iodium Excess terjadi apabila iodium yang dikonsumsi cukup besar secara terus menerus, seperti yang dialami oleh masyarakat di Hokaido (Jepang) yang mengkonsumsi ganggang laut dalam jumlah yang besar. Bila iodium dikonsumsi dalam dosis tinggi akan terjadi hambatan hormogenesis, khususnya iodinisasi tirosin dan proses coupling.

Faktor Geografis dan Non Geografis
GAKI sangat erat hubungannya dengan letak geografis suatu daerah, karena pada umumnya masalah ini sering dijumpai di daerah pegunungan seperti pegunungan Himalaya, Alpen, Andres dan di Indonesia gondok sering dijumpai di pegunungan seperti Bukit Barisan Di Sumatera dan pegunungan Kapur Selatan. Daerah yang biasanya mendapat suplai makanannya dari daerah lain sebagai penghasil pangan, seperti daerah pegunungan yang notabenenya merupakan daerah yang miskin kadar iodium dalam air dan tanahnya. Dalam jangka waktu yang lama namun pasti daerah tersebut akan mengalami defisiensi iodium atau daerah endemik iodium.

Faktor Bahan Pangan Goiterogenik
Kekurangan iodium merupakan penyebab utama terjadinya gondok, namun tidak dapat dipungkiri bahwa faktor lain juga ikut berperan. Salah satunya adalah bahan pangan yang bersifat goiterogenik. Zat goiterogenik dalam bahan makanan yang dimakan setiap hari akan menyebabkan zat iodium dalam tubuh tidak berguna, karena zat goiterogenik tersebut merintangi absorbsi dan metabolisme mineral iodium yang telah masuk ke dalam tubuh. Giterogenik adalah zat yang dapat menghambat pengambilan zat iodium oleh kelenjar gondok, sehingga konsentrasi iodium dalam kelenjar menjadi rendah. Selain itu, zat goiterogenik dapat menghambat perubahan iodium dari bentuk anorganik ke bentuk organik sehingga pembentukan hormon tiroksin terhambat. Beberapa jenis Goitrogen yaitu:
Kelompok Tiosianat atau senyawa mirip tiosianat
contoh: ubi kayu, jagung, rebung, ubi jalar, buncis besar
Kelompok tiourea, tionamide, tioglikoside, vioflavanoid dan disulfida alifatik,
contoh : berbagai makanan pokok di daerah tropis seperti sorgum, kacang-kacangan, bawang merah dan bawang putih
Kelompok Sianida
Contoh: daun + umbi singkong , gaplek, gadung, rebung, daun ketela, kecipir, dan terung
Kelompok Mimosin
contoh: pete cina dan lamtoro
Kelompok Isothiosianat
contoh: daun pepaya
Kelompok Asam
contoh: jeruk nipis, belimbing wuluh dan cuka
Kelompok yang bekerja pada proses proteolisis dan rilis hormon tiroid

next..!

12.01.2009

LAGU ONLINE

Klik di sini
www.song2play.com

10.20.2009

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran. Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara dosen LPTK (FKIP-UT) dengan guru SD N 1 Wowoli Kecamatan Toari Kabupaten Kolaka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing; (2) Prestasi belajar siswa meningkat setelah mengalami pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 5,859; nilaia rata-rata kelompok sebesar 6,102. Pada siklus kedua nilai rata-rata siswa 6,512 dan nilai rata-rata kelompok 7,615; sedangkan pada siklus ketiga nilai rata-rata siswa 7,948 dan nilai rata-rata kelompok 7,384. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat digunakan pada penelitian tindakan kelas. Kata Kunci: model pembelajaran interaktif, penelitian tindakan kelas, IPA, SD.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Meningkatkan mutu pendidikan adalah menjadi tanggungjawab semua pihak yang terlibat dalam pendidikan terutama bagi guru SD, yang merupakan ujung tombak dalam pendidikan dasar. Guru SD adalah orang yang paling berperan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat bersaing di jaman pesatnya perkembangan teknologi. Guru SD dalam setiap pembelajaran selalu menggunakan pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkannya, namun masih sering terdengar keluhan dari para guru dilapangan tentang materi pelajaran yang terlalu banyak dan keluhan kekurangan waktu untuk mengajarkannya semua.

Menurut pengamatan penulis, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas penggunaan model pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan model konvesional pada setiap pembelajaran yang dilakukannya. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap modelmodel pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap model-model pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, dan sangat sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi.

Kurikulum berbasis kompetensi yang mulai diberlakukan di sekolah dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran IPA.
Disamping itu kurikulum berbasis kompetensi memberi kemudahan kepada guru dalam menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). Untuk itu guru perlu meningkatkan mutu pembelajarannya, dimulai dengan rancangan pembelajaran yang baik dengan memperhatikan tujuan, karakteristik siswa, materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Kenyataannya masih banyak ditemui proses pembelajaran yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik, bahkan cenderung membosankan, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal.

Rendahnya perolehan hasil belajar mata pelajaran IPA di SDN Jakarta Timur munjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui mengapa prestasi siswa tidak seperti yang diharapkan, tentu guru perlu merefleksi diri untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan siswa dalam pelajaran IPA. Sebagai guru yang baik dan profesional, permasalahan ini tentu perlu ditanggulangi dengan segera. Berdasarkan hal tersebut diatas, penerapan model pembelajaran interaktif menjadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Penelitian ini dilakukan peneliti yang bertugas sebagai tenaga dosen FKIP-UT dengan berkolaborasi dengan guru-guru SD di SDN Jakarta Timur. Dengan berlolaborasi ini, diharapkan kemampuan profesional guru dalam merancang model pembelajaran akan lebih baik lagi dan dapat menerapkan model pembelajaran yang lebih bervariatif. Disamping itu kolaborasi ini dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksi diri terhadap kinerja yang telah dilakukannya, sehingga dapat melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pembelajaran dan mengelola proses pembelajaran yang lebih terpusat pada siswa.

Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50) Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebgai berikut.
1. Bagaimana desain model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?
2. Bagaimana menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?
3. Bagaimana kinerja belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
4. Apakah dengan kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
5. Bagaimana kreaktivitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
6. Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?

C. Cara Pemecahan Masalah
Permasalahan rendahnya hasil belajar IPA di kelas IV SD N 1 Wowoli perlu seger ditanggulangi, dan guru perlu melakukan refleksi atas kinerjanya selama perolehan hasil belajar IPA masih dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi, apabila kreaktifitas siswa dalam pembelajaran juga tinggi. Hasil penelitian mengungkapkan bahawa tingkat kreatifitassiswa saat penelitian dilaksanakan masih rendah, kinerja siswa menunjukkan fenomena sebagai berikut guru jarang membimbing siswa dalam diskusi tentang topik-topik IPA, guru jarang memberikan pertanyaan kepada siswa baik secara individual maupun secara klasikal. Siswa tidak berani bertanya kepada guru karena guru kurang memotivasi siswa agar berani bertanya apabila ada masalah/materi yang tidak/kurang dimengerti. Pembelajaran yang ada lebih terpusat pada guru, bukan kepada siswa. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, apalagi dengan diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi yang mengisyaratkan pembelajaran harus dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa. Hal ini dapat tercapai apbila kinerja belajar siswa ditingkatkan, sehingga guru hanya berperan sebagai fasiltator, motivator dan organisator.

Berdasarkan hal tersebut diatas, dengan demikian untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SD, menerapkan model pembelajaran interaktif sebagai alternatif untuk dapat meningkatkan perolehan hasil belajar IPA, dapat lebih optimal lagi apabila dilakukan melalui kerja kelompok. Rencana penerapan model tersebut dapat dilihat pada skema berikut

PERSIAPAN
Guru dan Kelas memilih topik dan
menemukan informasi



SEBELUM PANDANGAN
Kelas atau perorangan siswa mengemukakan
Yang diketahui tentang topik yang dibahas


KEGIATAN EKSPLORASI
Melibatkan siswa dalam topik

PEMBANDINGAN

PERTANYAAN ANAK
Kesempatan kelas mengundang siswa
Mengajukan Pertanyaan tentang topik



PENYELIDIKAN
Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk
Untuk dieksplorasi selama 2-3 hari

PERTANYAAN
TAMBAHAN
SETELAH PANDANGAN
Pernyataan perorangan atau kelompok dikompilasi
Dan dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya

REFLEKSI


Saat memantapkan hal-hal yang telah diverifikasi
Dan hal-hal yang masih perlu dipilah


Gambar 1 Bagan Alur Pembelajaran Interaktif
(Faire and Cosgrove, dalam Harlen 1992)

D. Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran.

Secara khusus tujuan penelitian adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui kemampuan guru mendesain model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok
2. Menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok
3. Meningkatkan kinerja belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
4. Mengetahui apakah kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran interaktif
5. Meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok.
6. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
7. Solusi yang dilakukan guru dalam mengatasi kendala dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok








E. Manfaat Penelitian

Bagi siswa pembelajaran interaktif memberikan pengalaman baru dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan belajarnya. Siswa memiliki kesadaran bahwa proses pembelajaran adalah dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, karena itu keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh siswa. Disamping itu, melalui penelitian ini siswa terlatih untuk dapat memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah dan siswa didorong aktif secara fisik, mental, dan emosi dalam pembelajaran. Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesional, dan pembelajaran interaktif menjadi alternative pembelajaran IPA untuk meningkatkan prestasi siswa. Memberikan kesadaran guru untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik siswa, dan kondisi pembelajaran. Guru mempunyai kemampuan dalam merancang model pembelajaran interaktif yang merupakan hal baru bagi guru, dan menerapkannya dalam pembelajaran IPA. Dengan penelitian ini, kemampuan guru mengaktifkan siswa dan memusatkan pembelajaran pada pengembangan potensi diri siswa juga meningkat, sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna, menyenangkan, dan mempunyai daya tarik. Disamping itu penelitian ini dapat memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan refleksi diri atas kinerjanya melalui PTK.

Bagi kepala sekolah penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar (PBM) dan meningkatkan prestasi belajar siswa serta perlunya kerjasama yang baik antar guru dan antara guru dengan kepala sekolah.



BABII
KAJIAN PUSTAKA


Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan IPA secara umum membantu agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki keterampilan untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar maupun menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam yang harus dibuktikan kebenarannya di laboratorium, dengan demikian IPA tidak saja sebagai produk tetapi juga sebagai proses. Untuk itu ada tiga hal yang berkaitan dengan sasaran IPA di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut. (1) IPA tidak semata berorientasi kepada hasil tetapi juga proses. (2) Sasaran pembelajaran IPA harus utuh menyeluruh dan (3) pembelajaran IPA akan lebih berarti apabila dilakukan secara berkesinambungan dan melibatkan siswa secara aktif.

A. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Seringkali kita mendengar kata penelitian, yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris : research, yang berarti kegiatan pencaharian atau ekspolrasi untuk menemukan jawaban dari masalah yang menjadi bidang kajian. Adapun yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research, yaitu satu action research yang dilakukan di kelas. Dari segi semantik (arti kata) action research diterjemahkan menjadi penelitian tindakan. Carr dan Kemmis (McNiff, J, 1991, p.2) mendefisikan action research sebagai berikut : Action research is a form of self – refflective enquiry undertaken by participants (teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and the situations (and institutions) in which the practices are carried out.

Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa ide pokok antara lain :
1. Penelitian Tindakan Kelas merupakan satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri
2. Penelitian Tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
3. Penelitian Tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan
4. Tujuan Penelitian Tindakan adalah untuk memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan dari praktek-praktek, pemahamn terhadap praktek tersebut, serta situasi atau lembaga tempat tersebut dilaksanakan

Dari keempat ide pokok di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Berdasarkan pengertian tersebut maka Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan guru di dalam kelasnya melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.

B. Model Pembelajaran Interaktif

Secara khusus, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatn. Sunarwan (1991) dalam Sobry Sutikno (2004 :15) mengartikan model merupakan gambaran tentang keadaan nyata. Model pembelajaran atau model mengajar sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada mengajar di kelas dalam setting pengajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaanpertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPAyang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50).


Model pembelajaran interaktif memiliki lima langkah. Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Interaktif diawali dengan (1) persiapan, sebelum pembelajaran dimulai guru menugaskan siswa untuk membawa hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang hewan peliharaannya masing-masing. (2) kegiatan penjelajahan, pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati hewan-hewan peliharaan teman-temannya dari dekat (meraba, mengelus, menggendong) dan mereka boleh mengajukan pertanyaan. (3) pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya. (4) penyelidikan, guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi lebih jauh. Misalnya siswa diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang tidak dipelihara, seperti dari mana mereka memperoleh makanannya, dimana mereka tidur, punya nama atau tidak, bagaimana kebersihannya. (5) refleksi, pada pertemuan berikutnya di kelas dibahas hasil penyelidikan mereka, dilakukan pembandingan antara hewan peliharaan dengan hewan liar untuk memantapkan hal-hal yang sudah jelas dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diselidiki lebih jauh. Pada akhir kegiatan guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar mereka seperti buku dan tas sekolahnya. Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

C. Kerja Kelompok

Suatu strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan IPA yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, berpikir kritis, dan pada saat yang sama meningkatkan prestasi akademiknya. Disamping itu kerja kelompok dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit sambil pada saat yang bersamaan sangat berguna untuk menumbuhkan kemauan kerja sama dan kemauan membantu teman. Kerja kelompok memungkinkan siswa lebih terlibat secara aktif dalam belajar karena ia mempunyai tanggung jawab belajar yang lebih besar dan memungkinkanberkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan pada siswa. Sedangkan peran guru lebih ditekankan sebagai organisator kegiatan belajar-mengajar, sumber informasi bagi siswa, pendorong bagi siswa untuk belajar, serta penyedia materidan kesempatan belajar bagi siswa. Guru harus dapat mendiagnosa kesulitan siswa dalam belajar dan dapat memberikan bantuan kepadanya sesuai dengan kebutuhannya.



D. Pengertian Belajar

Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (survived). Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu, tejadi dalam jangka waktu waktu tertentu. Perubahan yang itu harus secara relative bersifat menetap (permanent) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak (immediate behavior) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Perubahan yang terjadi karena pengalaman ini membedakan dengan perubahan-perubahan lain yang disebabkan oleh kemasakan (kematangan).

E. Kreativitas

Dewasa ini istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan dalam kegiatan manusia sehari-hari, sering pula ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas baik pada anak didik, pegawai negeri maupun pada mereka yang berwiraswasta. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya, kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak hubungannya. Seorang anak kecil asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang bermacam-macam, setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru bagi dirinya karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal yang semacam itu. Anak iniadalah anak yang kreatif, berbeda dengan anak lain yang hanya membangun sesuatu jika ada contohnya.

Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran, Gordon dalam Joice and Weill (1996) dalam E. Mulyana (2005 : 163) mengemukakan empat prinsip dasar sinektik tentang kraetivitas. Pertama, kreativitas merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari. Hampir semua manusia berhubungan dengan proses kreativitas, yang dikembangkan melalui seni atau penemuan-penemuan baru. Lebih jauh Gordon menekankan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan berlangsung sepanjang hayat. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat diekspresikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas didorong pleh kesadaran yang memberi petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu, penemuan kreatif ditandai oleh beberapa proses intelektual. Keempat, berpikir kraetif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal.










BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di kelas empat SD N 1 Wowoli Kecamatan Toari Kabupaten Kolaka pada Tahun Ajaran 2008/2009.

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara dosen LPTK (FKIP-UT) dengan guru SD N Jakarta Timur.

B. Prosedur Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri atas tiga siklus kegiatan sebagai berikut.
SIKLUS 1

Tahap Perencanaan (Planning)
1. Mengidentifikasi masalah
2. Menganalisis dan merumuskan masalah
3. Merancang model Pembelajaran interaktif
4. Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif
5. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)
6. Menyusun kelompok belajar siswa
7. Merencanakan tugas kelompok

Tahap Melakukan Tindakan (Action)
1. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan
2. Menerapkan model pembelajaran interaktif
3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
4. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
5. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan

Tahap Mengamati (observasi)
1. Melakukan diskusi dengan guru SD dan kepala Sekolah untuk rencana observasi
2. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru kelas lima
3. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif
4. Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentangm kelamahankelemahanmatau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya

Tahap refleksi (Reflection)
1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi
2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dan mempertimbangkan langkah selanjutnya
3. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok


4. Melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam proses pembelajaran IPA
5. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar

SIKLUS II

Tahap Refleksi/Siklus II meliputi :

Tahap Perencanaan (Planning)
1. Hasil refleksi dievaluasi, didiskusikan, dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya
2. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran
3. Merancang perbaikan II berdasarkan refleksi siklus I

Tahap Melakukan Tindakan (Action)
1. Melakukan analisis pemecahan masalah
2. Melaksanakan tindakan perbaikan II dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok

Tahap Mengamati (observation)
1. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
2. Mencatat perubahan yang terjadi
3. Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan
Tahap Refleksi (Reflection)
1. Merefleksi proses pebelajaran interakti dengan kerja kelompok
2. Merefleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok


3. Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian
4. Rekomendasi

Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah :
1) Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA
2) Guru memiliki kemampuan guru merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran IPA
3) Terjadi peningkatan prestasi siswa pada mata pelajaran IPA


C. Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dan dideskripsikan sesuai permasalahan yang ada dalam bentuk laporan hasil penelitian. Rancangan pembelajaran interaktif dan pemberian tugas kerja kelompok dilakukan validasi oleh teman sejawat dan kepala sekolah. Untuk kreativitas siswa dalam pembelajaran digunakan observasi dan angket serta perolehan hasil belajar siswa digunakan deskripsi kuantitatif.









BABIV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A. SIKLUS 1

Tahap Perencanaan (Planning)
- Guru mulai mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul saat pelaksanaan pembelajaran.
- Guru mencoba menganilisis dan merumuskan masalah yang mungkin muncul saat pembelajaran
- Guru merancang model pembelajaran interaktif, dibantu peneliti
- Guru dan peneliti melakukan diskusi mengenai penerapan model pembelajaran interaktif, terutama langkah-langkah kegiatan diskusi kelompok siswa
- Peneliti dan guru bersama-sama membuat angket untuk siswa dan pedoman observasi- Guru menyusun kelompok berdasarkan siswa yang pandai dibagi merata kesetiap kelompok
- Guru merencanakan tugas kelompok tentang topik/materi IPA/Sains

Tahap Melakukan Tindakan (Action)
- Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan sesuai perencanaan pembelajaran
- Guru menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran Sains/IPA
- Peneliti dan pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
- Peneliti dan pengamat memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
- Guru belum dapat mengantisipasi kendala dengan melakukan solusi mengalami kendala saat melakukan tahap tindakan

Tahap Mengamati (observasi)
- Peneliti, pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) dan guru melakukan diskusi untuk rencana observasi pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya
- Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru
- Peneliti dan para pengamat mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif. Pada awal pembelajaran guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prncanaan, namun setelah beberapa saat guru kembali kepada pola lama yang biasa dilakukan dalam pembelajaran yaitu menjelaskan materi dan siswa menyimak penjelasan guru dan mencatat hal yang dianggap penting. Guru nampak tidak percaya diri ketika siswa bertanya tentang materi yang tidak dimengerti ketika mengerjakan tugas di rumah.
- Peneliti, para pengamat dan guru melakukan diskusi untuk membahas tentang kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran IPA/Sains berikutnya. Saran yang diberikan peneliti dan juga para pengamat salah satunya adalah guru harus membaca materi IPA/Sains paket, meskipun guru sudah sering mengajarkan materi tersebut. Guru juga harus membaca beberapa buku referensi lain selain buku paket dan buku wajib, agar gurulebih percaya diri dan dapat menjawab semua pertanyaan siswa dengan tepat. Guru harus dapat mengalokasi waktu dengan baik, sehingga dapat merangkum materi yang dibahas.



Tahap refleksi (Reflection)
- Guru menlakukan analisis temuan peneliti dan para pengamatan saat melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran oleh guru
- Peneliti dan para pengamat menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dan mempertimbangkan langkah selanjutnya. Terutama dalam mengelola kelas, saat siswa melakukan kerja kelompok.
- Guru melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA/Sains. Selama diskusi kelas guru berusaha berkeliling pada setiap kelompok. Guru menanyakan kesulitan atau masalah yang dihadapi saat melakukan percobaan.
- Guru dibantu peneliti melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA/Sains, di samping itu guru mengadakan evaluasi tentang topik yang sudah dibahas dan nilai rata-rata siswa 5,859. Kreativitas meningkat setelah mengalami pembelajaran yang dilaksanakan guru. Siswa terlibat aktif dalam diksusi kelompok dan percobaan.
- Guru melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa, mengevaluasi terhadap kekurangan dan kelemahannya dalam pelaksanaan pembelajaran, berupaya untuk memperbaikinya.


B. SIKLUS II

Tahap Refleksi/Siklus II meliputi

Tahap Perencanaan (Planning)
- Hasil refleksi guru dievaluasi dan didiskusikan bersama dengan peneliti dan para pengamat dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya.
- Guru mendata masalah-masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran
- Guru merancang perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi siklus I

Tahap Melakukan Tindakan (Action)
- Guru melakukan analisis dan pemecahan masalah yang dihadapinya dalam pelaksanaan pembelajaran
- Guru melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dan berusaha memperbaiki kekurangan dan kelemahan saat pembelajaran.

Tahap Mengamati (observation)
- Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif
- Peneliti dan para pengamat mencatat perubahan yang terjadi, guru lebih percaya diri dan menjelaskan materi/konsep dengan baik. Guru sudah dapat berperan sebagai nara sumber, fasilitator dan mediator dengan baik. Guru sudah dapat mengelola kelas dengan baik.
- Guru, peneliti dan para pengamat melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan.

Tahap Refleksi (Reflection)
- Guru merefleksi proses pembelajaran interaktif yang dilaksanakannya
- Guru merefleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif
- Guru menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian
- Peneliti dan guru memberikan rekomendasi terhadap hasil akhir penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru.


Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah
- Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA. Setiap pembelajaran IPA siswa selalu sudah siap dengan pertanyaan tentang materi/topik yang akan dibahas. Siswa sudah terbiasa bekerja kelompok dan berdiskusi
- Guru telah memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif khususnya pada mata pelajaran IPA/Sains. Ada kemauan guru untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran lainnya
- Prestasi siswa dalam pelajaran IPA/Sains meningkat. Nilai rata siswa mencapai 6,512


















BAB V
P E N U T U P

A. Simpulan

 Guru dalam mendesain model pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran IPA, pada awalnya masih ragu dan belum terbiasa.
 Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok. Pada awalnya siswa mengalami kesulitan bekerja dalam kelompok, terutama siswa yang pintar/pandai tidak mau bergabung dengan siswa yang tidak/kurang pandai. Siswa yang merasa dirinya pandai lebih suka belajar dan bekerja sendiri. Siswa terkesan egois, untuk dapat menyatukan siswa dalam kelompok dan bekerja sama guru berusaha memberi penjelasan tentang pentingnya berbagi, bekerja sama, bersahabat tanpa memperhatikan kepintaran atau kemampuan orang lain. Justru siswa yang memiliki kelebihan daripada teman-temannya dapat membantunya dengan memberikan penjelasan tentang teori/materi pelajaran yang belum dipahami dan dimengerti
 Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masingmasing.
 Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok, mengalami kesulitan dalam pengelolaan waktu. Guru belum dapat membagi waktu dalam masing-masing kegiatan pembelajaran. Siswa terlalu melakukan diskusi, sehingga guru tidak sempat merangkum/menyimpulkan materi yang dibahas karena waktunya sudah habis.
 Penelitian tindakan kelas yang dilakukan bertujuan adalah memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakan guru. Menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat dijadikan alternatif untuk penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan berikutnya.

B. Saran

Penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok memerlukan kemauan dan pengorbanan yang besar, baik waktu, tenaga dan pikiran untuk itu bagi guru sekolah dasar mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas menggunakan model pembelajaran ini sebagai suatu tantangan. Penelitian tindakan kelas sebaiknya dilakukan oleh guru dengan penuh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, peneliti hanya berusaha menjembatani dan memfasilitasi agar para guru sekolah dasar mau melakukan penelitian tindakan kelas sebagai langkah introspeksi diri sebagai tenaga profesional.

Sebaiknya penelitian tindakan kelas dilakukan oleh semua guru, baik guru SD, SMP, maupun SMA, sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja sebagai guru. Guru harus dapat menilai dirinya sendiri sebelum melakukan penilaian kepada siswanya. Guru harus mengetahui kelemahan dan kekurangannya dalam pembelajarannya, berusaha untuk mengatasinya dan menemukan solusi yang terbaik serta mengantisipasi apabila dalam pembelajaran mengalami kendala dan masalah







DAFTAR PUSTAKA


Arifin, Zainal. (1994). Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Remaja
Rosdakarya. Bandung. Gagne, R.M (1985). The Conditions of Learning
Theory of instruction (4thEdition). New York : Holt, Rinehart and Winston.

Hasibuan, J.J, Mudjiono (1988), Proses Belajar Mengajar. CV. Remaja Karya.
Bandung.

Hendro Darmodjo, Kaligis, J R E. (1991/1992). Pendidikan IPA II, Hal 7-11
Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan

Hernawaty Damanik. (2004). Penerapan Model Pembelajaran Social Science
Inquiry Dalam Mata Pelajaran Sosiologi Dengan Kerja Kelompok.
FKIP- Universitas Terbuka.

Irwanto, dkk (1991). Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta.

Lemlit-UT, (2003). Jurnal Pendidikan Volume 4, nomor 2. Pusat Studi Lembaga
Penelitian Universitas Terbuka.

Mulyasa, E (2005). Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran
Kreatif dan Menyenangkan. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Poedjiadi, A. (1993). Mewujudkan literasi Sains dan Teknologi Melalui
Pendidikan, hal 4-6. Disampaikan pada seminar FPMIPA IKIPBandung.

Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory and Practice. Masschusetts:
Allyn and Bacon Publisher.

Sobry Sutikno, (2004). Model Pembelajaran Interaksi Sosial, Pembelajaran
Efektif dan Retorika. NTP Press. Mataram

Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory Research and Practice.
Second Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Sutarno, N. (2004). Materi Dan Pembelajaran IPA SD. Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka.

PERBAIKAN TINDAKAN KELAS (PTK)
BIDANG STUDI IPA














OLEH

ABDUL CHOLIQ. A. Ma
NIP: 131249338
NUPTK: ..........................
NOMOR PESERTA: 09 200402710124

SD NEGERI 1 WOWOLI
KECAMATAN TOARI
KABUPATEN KOLAKA
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Lembar Pengesahan
Abstrak
Daftar Isi
BABI PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………………..
B. Rumusan Masalah …………………………………………………….
C. Cara Pemecahan Masalah ……………………………………………..
D. Tujuan Penelitian ………………………………………………………
E. Manfaat Penelitian …………………………………………………….

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ................................................
B. Model Pembelajaran Interaktif ………………………………....
C. Kerja Kelompok ………………………………………………..
D. Pengertian Belajar .......................................................................
E. Kreativitas ....................................................................................

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Desain Penelitian...........................................................................
B. Prosedur Penelitian .......................................................................
C. Analisis Data ………………………………………………………….

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Siklus I ..................................................................................................
 Tahap Perencanaan (Planning) .............................................................
 Tahap Melakukan Tindakan (Action) ..................................................
 Tahap Mengamati (observasi) ..............................................................
 Tahap refleksi (Reflection) ...................................................................
B. Siklus II ................................................................................................
 Tahap Perencanaan (Planning) ............................................................
 Tahap Melakukan Tindakan (Action) ..................................................
 Tahap Mengamati (observasi) .............................................................
 Tahap refleksi (Reflection) ..................................................................

BAB V PENUTUP
A. Simpulan .............................................................................................
B. Saran ...................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR



Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik. Disadari bahwa masih terdapat kelemahan dan kekurangan dalam karya ini yang kesemuanya itu di luar kesengajaan, tetapi karena keterbatasan kemampuan penulis.

Akhirnya penulis berdoa semoga Karya Ilmiah ini memiliki manfaat yang dapat diamalkan bagi peningkatan mutu pendidikan. Segala aktivitas yang kita lakukan di muka bumi membawa kedamaian serta bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Amin.





Wowoli, …………… 2009


Penulis











LEMBAR PENGESAHAN


NAMA : ABD. CHOLIQ. A. Ma
NIP : 131249338
NUPTK :
NOMOR PESERTA : 09 200402710124
TEMPAT MENGAJAR : SD NEGERI 1 WOWOLI



Tempat dan tanggal pelaksanaan : SD Negeri 1 Wowoli, tgl 24 April 2009 S/d 29 Mei 20009

Masalah yang merupakan fokus perbaikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA )
1. Rendahnya prestasi belajar siswa dalam proses belajar mengaja
2. Kurangnya kreaktivitas siswa dalam pembelajaran IPA



Mengetahui Wowoli, ........................2009

Kepala Sekolah Peneliti






= = = ABDUL CHOLIQ. A. Ma =
NIP NIP. 131 249 338

10.17.2009

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKN DENGAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF

abstraks:

Pendidikan Kewarganegaraan menuntut siswa menunjukkan sikap yang baik, kreatif, dan bertanggungjawab. Tapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran PKn belum tercapai sebagaimana yang diharapkan. Seringkali guru menemukan siswa tidak berani mengemukakan pendapat maupun bertanya. Dalam bekerja kelompok banyak dari anggota kelompok yang hanya mencantumkan nama saja tanpa ikut berpartisipasi dalam kelompok. Tanggungjawab siswa rendah, baik terhadap dirinya sendiri (individu) maupun terhadap kelompok.
Guru yang profesional seharusnya mampu untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Banyak model pembelajaran yang dapat dipilih untuk meningkatkan kreativitas maupun tanggungjawab siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah kooperatif Jigsaw, di mana siswa dituntut untuk bekerja sama dan bertanggungjawab sampai akhir pelajaran.

Pengertian ini dilakukan di kelas VII B, semester 2, tahun pelajaran 2007/2008 di SMPN 1 X Koto Singkarak. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Alat pengumpul data yang digunakan adalah lembaran observasi, catatan lapangan, dan kuesioner.
Hipotesis penelitian ini adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan aktivitas siswa di SMPN 1 X Koto Singkarak.
Hasil penelitiaan menunjukkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas siswa. Hasil ini diharapkan akan bermanfaat sebagai informasi bahwa pelaksanaan pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas siswa di SMP.


































KATA PENGANTAR



Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik. Disadari bahwa masih terdapat kelemahan dan kekurangan dalam karya ini yang kesemuanya itu di luar kesengajaan, tetapi karena keterbatasan kemampuan penulis.

Karya tulis ini diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar ……………… pada Fakultas ……………………Universitas …………. Kendari. Penulis menyadari bahwa Skripsi ini terwujud karena bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Dengan penuh ketulusan penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat ………………………………………….yang dengan sepenuh hati telah membimbing penulis, sejak dari penyusunan proposal hingga selesainya Karya Ilmiah ini.

Akhirnya penulis berdoa semoga ………… ini memiliki manfaat yang dapat diamalkan bagi peningkatan mutu pendidikan. Segala aktivitas yang kita lakukan di muka bumi membawa kedamaian serta bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Amin.

Watubangga, 2009

Penulis







BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Negara berkembang selalu berusaha untuk mengejar ketinggalannya, yaitu dengan giat melakukan pembangunan di segala bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagai cara seperti mengganti kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran atau melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, memberi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan sebagainya. Sesuai dengan UU no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 3 menyatakan bahwa;“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Dengan memperhatikan isi dari UU No. 20 tahun 2003 tersebut, peneliti berpendapat bahwa tugas seorang peneliti memang berat, sebab kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh keberhasilan pendidikan dari bangsa itu sendiri. Jika seorang seorang guru atau pendidik tidak berhasil mengembangkan potensi peserta didik maka negara itu tidak akan maju, sebaliknya jika guru atau pendidik berhasil mengembangkan potensi peserta didik, maka terciptalah manusia yang cerdas, terampil, dan berkualitas. Sesuai dengan Depdiknas (2005 : 33) yang menyatakan bahwa, “Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945”.Untuk mencapai tujuan ini peranan guru sangat menentukan. Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19), peran guru adalah: “Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, dan evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik.

Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan mengganti cara / model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah dan tanya-jawab, model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif. Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif).

Pada SMPN 1 X Koto Singkarak sejak peneliti mengajar tahun 1991, dalam pembelajaran PKn, peneliti sering menggunakan model pembelajaran ceramah. Model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak mau bertanya apalagi mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan.

Melihat kondisi ini, peneliti berusaha untuk mencarikan model pembelajaran lain yaitu model pembelajaran diskusi. Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang (melihat kondisi siswa di kelas). Dari diskusi yang telah dilaksanakan, ternyata siswa masih kurang mampu dalam mengemukakan pendapat, sebab kemampuan dasar siswa rendah. Dalam bekerja kelompok, hanya satu atau dua orang saja yang aktif, sedangkan yang lainnya membicarakan hal lain yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok. Dalam melaksanakan diskusi kelompok, peneliti juga melihat di antara anggota kelompok ada yang suka mengganggu teman karena mereka beranggapan bahwa dalam belajar kelompok (diskusi) tidak perlu semuanya bekerja. Karena tidak semua anggota kelompok yang aktif, maka tanggung jawab dalam kelompok menjadi kurang, bahkan dalam kerja kelompok (diskusi), peneliti juga menemukan ada di antara anggota kelompok yang egois sehingga tidak mau menerima pendapat teman.

Melihat kenyataan-kenyataan yang peneliti temui pada sikap siswa di dalam proses pembelajaran tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa aktivitas siswa di SMPN 1 X Koto Singkarak dalam pembelajaran PKn sangat kurang. Dalam hal ini peneliti berani mengungkapkan karena memang aktivitas siswa SMP Negeri 1 X Koto Singkarak masih jauh dari pengertian aktivitas yang diungkapkan dari para ahli, seperti Paul D. Dierich dalam Oemar Hamalik (2001: 173), mengemukakan bahwa jenis aktivitas dalam kegiatan lisan atau oral adalah mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.

Berdasarkan pengamatan atau observasi pendahuluan yang peneliti lakukan, ditemukan bahwa siswa SMPN 1 X Koto Singkarak dalam melaksanakan diskusi kelas jarang sekali mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, apalagi mengajukan saran. Karena aktivitas siswa yang rendah itu, hasil belajar yang diperoleh juga menjadi rendah. Hal ini dapat kita lihat dari nilai rata-rata hasil ujian semester 1 kelas VII tahun pelajaran 2007/2008, seperti yang dapat kita lihat pada tabel berikut:

Tabel: 1.1

Daftar Rata-rata Nilai PKn Ujian Semester 1 Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Wowoli Kecamatan toari Tahun Pelajaran 2008/2009
No. Kelas Rata-rata nilai PKn semester 1
1 VII A 71
2 VII B 66
3 VII C 69
4 VII D 67

Sumber: Data Sekunder Nilai PKn SMP Negeri 1 X Koto Singkarak.

Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain rendahnya perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran PKn. Guru sering memberikan pelajaran dalam bentuk ceramah dan tanya-jawab, sehingga siswa tidak terangsang untuk mengembangkan kemampuan berfikir kreatif.

Berdasarkan pengalaman yang peneliti hadapi di dalam proses pembelajaran PKn yang tidak aktif maka peneliti berusaha mencarikan model pembelajaran lain, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan lebih berkualitas. Model pembelajaran yang akan peneliti coba untuk melakukannya adalah model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw. Ketertarikan peneliti mengambil model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, karena peneliti melihat dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw semua anggota kelompok diberi tugas dan tanggungjawab, baik individu maupun kelompok. Jadi, keunggulan pada pembelajaran kooperatif Jigsaw dibanding dengan diskusi yaitu seluruh anggota dalam kelompok harus bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan, sebab tugas itu ada yang merupakan tanggung jawab individu dan ada pula tanggung jawab kelompok. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti mengambil sebuah judul yaitu: “Upaya Peningkatan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw”.
Dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw di SD Negeri 1 Wowoli Singkarak, diharapkan aktivitas siswa meningkat.
B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Siswa kurang memperhatikan dalam pembelajaran.
2. Siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat.
3. Adanya siswa beranggapan bahwa dalam belajar kelompok tidak perlu semua bekerja.
4. Adanya siswa yang suka membicarakan hal lain, yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok.
5. Tanggung jawab siswa terhadap tugas masih rendah.
6. Adanya anggota kelompok yang tidak mau menerima pendapat teman.


C. Pembatasan Masalah

Sesuai dengan kemampuan waktu dan tenaga yang peneliti miliki, maka peneliti memberi batasan masalah:
1. Siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat.
2. Tanggung jawab siswa terhadap tugas masih rendah.
3. Motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran kurang.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang telah ditetapkan dalam pembelajaran PKn dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Sejauh mana manfaat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap pembelajaran PKn?
2. Sejauh mana aktivitas belajar siswa dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
3. Sejauh mana pengaruh motivasi terhadap siswa dalam mengikuti pelajaran?
E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah “untuk emngetahui peningkatan aktivitas belajar siswa dan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui model pembelajaran kooperatif Jigsaw”.


F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang telah diuraikan di atas, maka peneliti mengharapkan penilitian ini bermanfaat sebagai berikut:
a. Bagi Siswa
i. Memberikan suasana pembelajaran yang menggairahkan
ii. Menghilangkan anggapan bahwa belajar kelompok itu cukup dikerjakan oleh satu atau dua orang saja
iii. Memupuk pribadi siswa aktif dan kreatif
iv. Memupuk tanggung jawab individu maupun kelompok
b. Bagi Guru
i. Mengembangkan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar
ii. Melatih guru agar lebih jeli dalam memperhatikan kesulitan belajar siswa
c. Bagi Sekolah
i. Melahirkan siswa-siswa yang aktif dan kreatif dalam menghadapi permasalahan di lingkungannya.




BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Hakekat Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang dilandasi oleh UUD 1945. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Depdiknas (2005: 34) bahwa: Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki wawasan, sikap, dan keterampilan kewarganegaraan yang memadai dan memungkinkan untuk berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Berdasarkan pendapat di atas jelas bagi kita bahwa PKn bertujuan mengembangkan potensi individu warga negara, dengan demikian maka seorang guru PKn haruslah menjadi guru yang berkualitas dan profesional, sebab jika guru tidak berkualitas tentu tujuan PKn itu sendiri tidak tercapai.
Secara garis besar mata pelajaran Kewarganegaraan memiliki 3 dimensi yaitu:
1. Dimensi Pengetahuan Kewarganegaraan (Civics Knowledge) yang mencakup bidang politik, hukum dan moral.
2. Dimensi Keterampilan Kewarganegaraan (Civics Skills) meliputi keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Dimensi Nilai-nilai Kewarganegaraan (Civics Values) mencakup antara lain percaya diri, penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur. (Depdiknas 2003 : 4)
Berdasarkan uraian di atas peneliti berpendapat bahwa dalam mata pelajaran Kewarganegaraan seorang siswa bukan saja menerima pelajaran berupa pengetahuan, tetapi pada diri siswa juga harus berkembang sikap, keterampilan dan nilai-nilai. Sesuai dengan Depdiknas (2005 : 33) yang menyatakan bahwa tujuan PKn untuk setiap jenjang pendidikan yaitu mengembangkan kecerdasan warga negara yang diwujudkan melalui pemahaman, keterampilan sosial dan intelektuan, serta berprestasi dalam memecahkan masalah di lingkungannya.

Untuk mencapai tujuan Pendidikan Kewarganegaraan tersebut, maka guru berupaya melalui kualitas pembelajaran yang dikelolanya, upaya ini bisa dicapai jika siswa mau belajar. Dalam belajar inilah guru berusaha mengarahkan dan membentuk sikap serta perilaku siswa sebagai mana yang dikehendaki dalam pembelajaran PKn.

B. Aktivitas Belajar Siswa dalam Pembelajaran PKn

Aktivitas Belajar
Sebelum peneliti meninjau lebih jauh tentang aktivitas belajar, terlebih dahulu dijelaskan tentang Aktivitas dan Belajar. Menurut Anton M. Mulyono (2001 : 26), Aktivitas artinya “kegiatan / keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Sedangkan Belajar menurut Oemar Hamalik (2001: 28), adalah “Suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Aspek tingkah laku tersebut adalah: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. Jika seseorang telah belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut.

Selanjutnya Sardiman A.M. (2003 : 22) menyatakan: “Belajar sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori”. Dalam proses interaksi ini terkandung dua maksud yaitu:
1. Proses Internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar.
2. Proses ini dilakukan secara aktif dengan segenap panca indera ikut berperan.
Dari uraian tentang belajar di atas peneliti berpendapat bahwa dalam belajar terjadi dua proses yaitu perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang sedang belajar, nteraksi dengan lingkungannya, baik berupa pribadi, fakta, dsb.

Jadi peneliti berkesimpulan bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas, 2005 : 31, belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor”.
Aktivitas belajar itu banyak sekali macamnya, sehingga para ahli mengadakan klasifikasi. Paul D. Dierich, dalam Oemar Hamalik (2001 : 172) mengklasifikasikan aktivitas belajar atas delapan kelompok, yaitu:
1. Kegiatan-kegiatan Visual
Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja dan bermain.


2. Kegiatan-kegiatan Lisan (oral)
Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
3. Kegiatan-kegiatan Mendengarkan
Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.
4. Kegiatan-kegiatan Menulis
Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.
5. Kegiatan-kegiatan Menggambar
Menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola.
6. Kegiatan-kegiatan Metrik
Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
7. Kegiatan-kegiatan Mental
Merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan.
8. Kegiatan-kegiatan Emosional
Minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain.

Berdasarkan pengertian aktivitas tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa dalam belajar sangat dituntut keaktifan siswa. Siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan. Tujuan pembelajaran PKn tidak mungkin tercapai tanpa adanya aktifitas siswa apalagi dalam pembelajaran PKn antara lain tujuannya adalah untuk menjadikan manusia kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dalam rangka membentuk manusia yang kreatif dan bertanggung jawab ini peneliti berusaha melatih dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw, sebab dalam model pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif dan bertanggung jawab baik secara individu maupun kelompok.

Hal lain yang juga sangat penting pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa adalah motivasi. Menurut Oemar Hamalik (2001: 158), “Motivasi adalah perubahan energi pada diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Motivasi dapat dibagi menjadi dua jenis:
1. Motivasi Intrinsik, adalah motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. Motivasi ini disebut motivasi murni karena timbul dari diri siswa sendiri, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperoleh informasi, mengembangkan sikap untuk berhasil, dll.
2. Motivasi Ekstrinsik, adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, misalnya ijazah, tingkatan hadiah, medali, dll. Motivasi ini tetap diperlukan di sekolah, sebab pengajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat siswa. Oleh sebab itu motivasi perlu dibangkitkan oleh guru, sehingga siswa mau dan ingin belajar.

Dari uraian di atas peneliti berpendapat bahwa dengan adanya motivasi siswa dalam belajar, maka aktivitas siswa dalam proses pembelajaran juga akan meningkat.

Aktivitas Siswa yang Diamati
Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati aktivitas siswa sebagai berikut:
a. Mengajukan pertanyaan
b. Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
c. Memberi saran
d. Mengemukakan pendapat
e. Menyelesaikan tugas kelompok
f. Mempresentasikan hasil kerja kelompok


C. Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Kooperatif Learning)

Keberhasilan dari pembelajaran sangat ditentukan oleh pemilihan metode belajar yang ditentukan oleh guru. Sebab dengan penyajian pembelajaran secara menarik akan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, sebaliknya jika pembelajaran itu disajikan dengan cara yang kurang menarik, membuat motivasi siswa rendah. Untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, upaya yang harus dilakukan guru adalah memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi pembelajaran. Dengan model pembelajaran yang tepat diharapkan akan meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar sehingga hasil belajar pun dapat ditingkatkan.

Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan pada kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Esensi pembelajaran kooperatif itu adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terdapat sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal.

Pada pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif antar anggota kelompok. Siswa saling bekerja sama untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Keberhasilan kelompok dalam mencapai tujuan tergantung pada kerja sama yang kompak dan serasi dalam kelompok itu.

Dengan memperhatikan pengertian dari pembelajaran kooperatif di atas, peneliti berpendapat bahwa model pembelajaran ini sangat baik untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, sebab semua siswa dituntut untuk bekerja dan bertanggung jawab sehingga di dalam kerja kelompok tidak ada anggota kelompok yang asal namanya saja tercantum sebagai anggota kelompok, tetapi semua harus aktif.

2. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil, di mana Muslim Ibrahim (2006 : 6, dalam Depdiknas 2005 : 45) menguraikan unsur-unsur pembelajaran

Kooperatif sebagai berikut:
a. Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri.
c. Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d. Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
e. Siswa akan dikena evaluasi atau hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua kelompok.
f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g. Siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Dengan memperhatikan unsur-unsur pembelajaran kooperatif tersebut, peneliti berpendapat bahwa dalam pembelajaran kooperatif setiap siswa yang tergabung dalam kelompok harus betul-betul dapat menjalin kekompakan. Selain itu, tanggung jawab bukan saja terdapat dalam kelompok, tetapi juga dituntut tanggung jawab individu.

3. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif:
Sebagai seorang guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa tentu ia akan memilih manakah model pembelajaran yang tepat diberikan untuk materi pelajaran tertentu. Apabila seorang guru ingin menggunakan pembelajaran kooperatif, maka haruslah terlebih dahulu mengerti tentang pembelajaran kooperatif tersebut. Dalam hal ini Muslim Ibrahim (dalam Depdiknas, 2005 : 46) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada individu.

Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut, seorang guru hendaklah dapat membentuk kelompok sesuai dengan ketentuan, sehingga setiap kelompok dapat bekerja dengan optimal.

4. Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif
Pada pembelajaran kooperatif dikenal ada 4 tipe, yaitu: tipe STAD, tipe Jigsaw, Investigasi Kelompok dan tipe Struktural. Tentang hal itu dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) adalah pembelajaran kooperatif di mana siswa belajar dengan menggunakan kelompok kecil yang anggotanya heterogen dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pembelajaran, kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pembelajaran melalui tutorial, kuis satu sama lain dan atau melakukan diskusi.
b. Tipe Jigsaw
Tipe Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli.


c. Investigasi Kelompok
Investigasi kelompok merupakan pembelajaran kooperatif yang paling komplek dan paling sulit untuk diterapkan, di mana siswa terlibat dalam perencanaan pemilihan topik yang dipelajari dan melakukan pentelidikan yang mendalam atas topik yang dipilihnya, selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
d. Tipe Struktural
Ada 2 macam pembelajaran koooperatif tipe struktural ini yang terkenal, yaitu:
 Think-pair-share, yaitu pembelajaran kooperatif dengan menggunakan tahap-tahap pembelajaran sebagai berikut:
• Tahap Pertama: Thinking (berfikir), dengan mengajukan pertanyaan, kemudian siswa diminta untuk memikirkan jawaban secara mandiri beberapa saat.
• Tahap Kedua: Siswa diminta secara berpasangan untuk mendiskusikan apa yang dipikirkannya pada tahap pertama.
• Tahap Ketiga: Meminta kepada pasangan untuk berbagi kepada seluruh kelas secara bergiliran.
 Numbered head together yaitu pembelajaran kooperatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:
• Langkah 1: siswa dibagi per kelompok dengan anggota 3-5 orang, dan setiap anggota diberi nomor 1-5.
• Langkah 2: guru mengajukan pertanyaan.
• Langkah 3: berfikir bersama menyatukan pendapat.
• Langkah 4: nomor tertentu disuruh menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Dari keempat tipe pembelajaran kooperatif di atas, peneliti lebih tertarik melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, di mana pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw setiap siswa berkewajiban mempelajari materi yang ditugaskan kepada mereka secara bersama pada kelompok ahli, kemudian setiap siswa harus menyampaikan materi yang sudah dipelajarinya dalam kelompok asal, sehingga siswa memperoleh pengalaman langsung. Tingkat aktivitas pada kooperatif Jigsaw lebih tinggi karena semua siswa berpartisipasi dan punya tanggung jawab baik individu maupun kelompok.


D. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat 3 karakteristik yaitu kelompok kecil, belajar bersama, dan pengalaman belajar. Esensi kooperatif learning adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Keadaan ini mendukung siswa dalam kelompoknya belajar bekerja sama dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai suksesnya tugas-tugas dalam kelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Johnson (1991 : 27) yang menyatakan bahwa “Pembelajaran Kooperatif Jigsaw ialah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok”.



Persiapan dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw
1. Pembentukan Kelompok Belajar
Pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa dibagi menjadi dua anggota kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Kelompok kooperatif awal (kelompok asal).
Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang terdiri dari 3-5 anggota. Setiap anggota diberi nomor kepala, kelompok harus heterogen terutama di kemampuan akademik.
b. Kelompok Ahli
Kelompok ahli anggotanya adalah nomor kepala yang sama pada kelompok asal
2. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini berbeda dengan kelompok kooperatif lainnya, karena setiap siswa bekerja sama pada dua kelompok secara bergantian, dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
a. Siswa dibagi dalam kelompok kecil yang disebut kelompok asal, beranggotakan 3-5 orang. Setiap siswa diberi nomor kepala misalnya A,B,C,D,E
b. Membagi wacana / tugas sesuai dengan materi yang diajarkan. Masing-masing siswa dalam kelompok asal mendapat wacana / tugas yang berbeda, nomor kepala yang sama mendapat tugas yang sama pada masing-masing kelompok.
c. Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki wacana / tugas yang sama dalam satu kelompok sehingga jumlah kelompok ahli sama dengan jumlah wacana atau tugas yang telah dipersiapkan oleh guru.
d. Dalam kelompok ahli ini tugaskan agar siswa belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana / tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
e. Tugaskan bagi semua anggota kelompok ahli untuk memahami dan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari wacana / tugas yang telah dipahami kepada kelompok kooperatif (kelompok asal). Poin c, d, dan e dilakukan dalam waktu 30 menit.
f. Apabila tugas telah selesai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali ke kelompok kooperatif asal.
g. Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli. Poin f dan g dilakukan dalam waktu 20 menit.
h. Bila kelompok sudah menyelesaikan tugasnya secara keseluruhan, masing-masing kelompok menyampaikan hasilnya dan guru memberikan klarifilkasi. (10 menit).

E. Kerangka Konseptual
Dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw kegiatan dilakukan dalam tiga tahapan yaitu : tahap I (kooperatif asal), tahap II (kelompok ahli), tahap III (kelompok gabungan). Untuk meningkatkan aktivitas siswa perlu adamotivasi, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Dalam halini peneliti hanya meneliti sampai aktivitas siswa, tidak meneliti sampai hasil belajar siswa.



F. Hipotesis Tindakan
Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMPN 1 X Koto Singkarak aktivitas siswa dapat meningkat.

























BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A. Jenis Penelitian

Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu suatu kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas dalam arti luas. Suharsimi Harikunto (2006 : 2 ) memandang Penelitian Tindakan Kelas sebagai bentuk penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga penelitian harus menyangkut upaya guru dalam bentuk proses pembelajaran.

PTK, selain bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, juga untuk meningkatkan kinerja guru dan dosen dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, PTK bukan hanya bertujuan untuk mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan yang dihadapi, tetapi yang lebih penting adalah memberikan pemecahan berupa tindakan untuk mengatasi masalah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa PTK adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses pembelajaran dan upaya meningkatkan proses serta hasil belajar.

B. Tempat/Waktu dan Subjek Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 X Koto Singkarak yang terletak di Jln. Tanah Lapang Pasir Singkarak Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok. Penelitian ini dilakukan pada bulan April – Mei 2008 (semester II tahun pelajaran 2007/2008) dengan standar kompetensi 4. Menampilkan perilaku kemerdekaan mengemukakan pendapat, sedangkan Kompetensi Dasar (KD):
4.1. Menjelaskan hakekat kemerdekaan mengemukakan pendapat.
4.2. Menguraikan pentingnya kemerdekaan mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab.

2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas VII.B yang berjumlah 23 orang, terdiri dari 14 orang laki-laki dan 9 orang perempuan. Mereka belajar di tenda semenjak gempa bumi 6 Maret 2007 dengan suasana belajar yang memprihatinkan, kalau hari hujan lantai digenangi air dan berlumpur dengan bau yang tidak sedap dan kalau hari panas siswa sangat kepanasan sehingga membuat kondisi belajar tidak kondusif, kelas VII.B dipilih sebagai subjek penelitian karena kondisi siswa pada kelas tersebut bermasalah sesuai dengan identifikasi masalah yang dipaparkan.

C. Prosedur Penelitian
Menurut prosedur Penelitian Tindakan Kelas, maka penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Kurt Lewin dalam Depdikbud (1999 : 21).

1. Rencana Tindakan
a. Menetapkan jumlah siklus yaitu dua siklus, tiap siklus dilaksanakan dua kali pertemuan tatap muka.
b. Menetapkan kelas yang dijadikan objek penelitian, yaitu kelas VII-B SMP Negeri 1 X Koto Singkarak, Kabupaten Solok.
c. Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dilakukan penelitian.
d. Menyusun perangkat pembelajaran, meliputi:
• Rencana Pembelajaran
• Lembaran Kerja Siswa
• Merancang alat pengumpul data
e. Menetapkan observer Menetapkan observer

2. Pelaksanaan Tindakan
Siklus 1
a. Kegiatan Pendahuluan
• Menyampaikan pelaksanaan penelitian tindakan kelas
• Sebagai apersepsi, siswa diingatkan kembali tentang kompetensi dasar berkaitan dengan materi yang dipelajari
• Memberikan motivasi agar siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran
• Menyebutkan dan menuliskan judul pembelajaran
• Menyebutkan dan menuliskan kompetensi dasar yang ingin dicapai

b. Kegiatan Inti
1. Tahap Kooperatif
• Siswa dibagi dalam enam kelompok kecil yang anggotanya empat orang dan diberi nomor kepala A,B,C,D.
• Kepada setiap kelompok dibagikan tugas yang tidak sama, masing-masing nomor kepala mendapat tugas yang berbeda.
• Tugas disajikan dalam bentuk Lembaran Kegiatan Siswa (LKS) yang dipersiapkan oleh peneliti.
2. Tahap Ahli
Siswa yang menerima wacana yang sama (yang berasal dari masing-masing kelompok kooperatif), membahas wacana / tugas dengan diskusi / bekerja sama dan mempersiapkan diri untuk menyampaikan hasil diskusinya kepada masing-masing anggota kelompok kooperatif asal.
3. Tahap Kooperatif Asal
• Setiap anggota kembali ke kelompok kooperatif masing-masing yang telah menjadi ahli dan mengajarkan / menginformasikan hasil diskusi kelompok ahli secara bergiliran
• Setiap kelompok menyusun laporan secara tertulis
• Mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan menunjuk salah satu kelompok

c. Kegiatan Penutup
1. Memberi penekanan tentang konsep penting yang harus dikuasai siswa
2. Membantu siswa menarik kesimpulan
3. Memberikan tugas rumah berdasarkan topik pada rencana pembelajaran

D. Instrumen Penelitian
Alat yang digunakan untuk pengumpulan data adalah berupa instrumen untuk mencatat semua aktivitas siswa selama tindakan berlangsung. Ada tiga macam alat pengumpul data yang digunakan, yaitu:
a. Lembaran Observasi
Aspek-aspek yang diamati adalah:
- Mengajukan pertanyaan
- Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
- Memberi saran
- Mengemukakan pendapat
- Menyelesaikan tugas kelompok
- Mempresentasikan hasil kerja kelompok

b. Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan buku jurnal harian yang ditulis peneliti secara bebas, buku ini mencatat seluruh kegiatan pembelajaran serta sikap siswa dari awal sampai akhir pembelajaran.

c. Kuesioner Siswa
Kuesioner siswa merupakan dialog secara tertulis dengan siswa yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana model pembelajaran yang dibawakan disenangi atau tidak oleh siswa, ada sepuluh aspek yang ditanyakan. Pada kuesioner ini siswa diharapkan dapat menjawab jujur dan objektif dengan jalan memberi ceklis “ya” atau “tidak” pada lajur yang disediakan. Kuesioner ini diberikan kepada 23 orang siswa setelah berakhirnya siklus kedua. Aspek yang ditanyakan pada kuesioner tersebut terlampir.


E. Analisa Data

Data yang diperoleh dianalisa secara kolaboratif dengan teman sejawat dan hasilnya dijadikan sebagai bahan penyusunan rencana tindakan berikutnya. Analisa data dilakukan setiap selesai 1 kali pertemuan tatap muka dan setiap akhir silkus. Data dianalisa secara kualitatif yaitu lembaran observasi dan catatan lapangan. Analisa kualitatif untuk catatan lapangan dan lembaran observasi dilakukan dengan jalan membandingkan keaktifan siswa pada siklus satu dengan keaktifan siswa siklus dua.

a. Lembaran Observasi Proses Belajar Mengajar
Lembaran ini dipergunakan untuk mengungkapkan aktifitas siswa dan guru selama proses belajar berlangsung. Ada 6 aspek yang diamati pada lembaran ini, yaitu:

1. Mengajukan pertanyaan
2. Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
3. Memberi saran
4. Mengemukakan pendapat
5. Menyelesaikan tugas kelompok
6. Mempresentasikan hasil kerja kelompok






















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I

Pertemuan 1

1. Perencanaan Tindakan
Berkaitan dengan masalah penelitian ini sudah dirumuskan rencana tindakan yang akan dilaksanakan untuk memecahkan masalah dalam penelitian. Rencana tindakan disusun untuk menguji hipotesis yang diajukan. Apakah tindakan yang dilakukan relevan dan sinkron dengan akar permasalahan yang ada. Materi pelajaran yang dibahas pada siklus I ini adalah:
“Menjelaskan hakekat kemerdekaan mengemukakan pendapat”, dengan perencanaan penelitian sebagai berikut:
• Menyiapkan rencana pembelajaran
• Menyiapkan wacana / tugas
• Menyiapkan format observasi
• Membagi kelompok siswa, yaitu kelompok kooperatif asal empat orang anggota dan kelompok ahli lima orang anggota

2. Pelaksanaan Tindakan
Berikut ini dipaparkan kondisi riil yang dialami selama proses belajar mengajar berlangsung.
• Pendahuluan (membuka pelajaran)
Guru bercerita tentang keadaan / situasi masyarakat ataupun negara terutama dalam menghadapi krisis ekonomi saat ini, sehingga siswa mampu menghubungkan dengan topik yang akan dibahas. Kemudian guru memberi motivasi kepada siswa agar siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran.
• Kegiatan Inti
Siswa menyimak penjelasan guru tentang indikator yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran. Kemudian siswa membaca materi pembelajaran mengenai hakekat serta landasan hukum mengemukakan pendapat.
Selanjutnya secara individu siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, yaitu:
a. Pengertian kemerdekaan mengemukakan pendapat
b. Dampak positif kemerdekaan mengemukakan pendapat dan hak-hak yang membatasi kemerdekaan mengemukakan pendapat.
c. Setelah selesai mengerjakan tugas, tiga orang siswa secara bergantian mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas. Kemudian guru memberi penjelasan dan klarifikasi sesuai dengan tugas yang dipresentasikan.
• Kegiatan Penutup
Siswa dengan dibimbing guru membuat rangkuman materi pelajaran. Setelah selesai, guru membentuk kelompok serta penjelasan kerja kelompok untuk persiapan pembelajaran berikutnya.

Pertemuan II
• Pendahuluan
Guru melakukan appersepsi yaitu kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran, kemudian memberikan motivasi dan informasi kompetensi yang akan dicapai. Kemudian guru membentuk kelompok sebagaimana telah dipersiapkan pada pertemuan sebelumnya.

• Kegiatan Inti
Guru memberikan tugas-tugas terhadap nomor kepala (nomor anggota kelompok), mulai dari nomor kepala A, B,C dan D, serta menjelaskan langkah yang harus dilakukan setiap kelompok dan alokasi waktu yang disediakan. Masing-masing nomor kepala mendapat tugas yang berbeda-beda. Tugas masing-masing nomor kepala adalah sebagai berikut:
a. Nomor kepala A membahas pengertian hak dan macam-macam hak-hak seseorang dalam mengemukakan pendapat.
b. Nomor kepala B membahas pengertian kewajiban dan macam-macam kewajiban dalam mengemukakan pendapat.
c. Nomor kepala C membahas bentuk-bentuk mengemukakan pendapat di muka umum.
d. Nomor kepala D membahas cara-cara beserta contoh mengemukakan pendapat di muka umum.

Setelah guru memberikan tugas kepada kelompok asal, setiap siswa mencatat bentuk tugas yang menjadi bagiannya. Selanjutnya yang mempunyai nomor kepala yang sama berkelompok dalam satu kelompok yang disebut kelompok ahli. Setiap kelompok ahli berdiskusi untuk membahas materi yang menjadi tanggungjawabnya. Guru berkeliling memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kesulitan, sekaligus mengamati aktivitas siswa yang sedang bekerja bersama observer dari guru serumpun. Setelah selesai berdiskusi pada kelompok ahli, setiap anggota mencatat hasilnya. Selanjutnya masing-masing anggota kembali ke kelompok asal. Pada kelompok ini hasil diskusi yang telah diperoleh dari kelompok ahli dibicarakan bersama dan disatukan untuk dijadikan laporan kelompok. Kemudian hasil kerja kelompok dipresentasikan di depan kelas.

• Kegiatan Penutup
- Siswa dengan difalitasi oleh guru membuat kesimpulan materi pelajaran dan
guru memberi penekanan terhadap materi yang penting
- Mengumpulkan laporan hasil kerja kelompok
- Menanyakan kepada beberapa orang siswa tentang refleksi pelajaran
- Memberi pekerjaan rumah (PR).

3 .Pemantauan Pelaksanaan Tindakan
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu dalam rangka mengupayakan meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw, maka pemantauan dengan menggunakan instrumen sebagai berikut:
1) Lembaran Observasi
2) Catatan Lapangan

Berikut ini dipaparkan satu persatu:

1) Lembaran Observasi
Observasi ini peneliti lakukan bersama dengan teman sejawat pada tanggal 24 April 2008 dan 15 Mei 2008 (Siklus I).
Aktivitas yang diamati adalah:
a. Mengajukan pertanyaan
b. Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
c. Membari saran
d. Mengemukakan pendapat
e. Menyelesaikan tugas kelompok
f. Mempresentasikan hasil kerja kelompok
Hasil observasi dapat kita lihat pada lampiran 1 dan 2
Tabel: 4.1
Distribusi Frekuensi Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus 1 (24 April 2008 dan 15 Mei 2008)
NO Aktivitas yang diamati Jumlah siswa Ket.
Pert. 1 Pert. 2
1. Mengajukan pertanyaan 3 (14%) 6 (27%)
2. Menjawab pertanyaan siswa maupun guru 3 (14%) 7 (32%)
3. Memberi saran - (0%) 1 (5%)
4. Mengemukakan pendapat 4 (19%) 7 (32%)
5. Menyelesaikan tugas kelompok 12 (57%) 15 (68%)
6. Mempresentasikan hasil kerja kelompok 3 (14%) 4 (18%)

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa pada pertemuan I aktivitas siswa masih rendah. Untuk diketahui pada pertemuan I ini peneliti belum lagi menerapkan model pembelajaran Jigsaw, tetapi hanya berbentuk ceramah bervariasi disertai dengan penugasan. Di akhir pembelajaran baru peneliti membentuk kelompok untuk persiapan pembelajaran jigsaw pada pertemuan berikutnya. Pada pertemuan 2 peneliti telah menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw, ternyata seperti yang kita lihat dalam tabel, terjadi peningkatan aktivitas siswa. Peningkatan terjadi pada semua aspek, namun yang paling rendah aktivitasnya adalah dalam hal memberi saran. Ini disebabkan karena tingkat pengetahuan siswa yang masih rendah. Kemudian peningkatan aktivitas yang agak tinggi adalah dalam menjawab pertanyaan siswa maupun guru. Ini disebabkan karena siswa diberi dorongan atau motivasi, sehingga secara bertahap timbul keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan.

2) Catatan Lapangan
Pada awal pembelajaran terlihat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Prasyarat pengetahuan dan motivasi yang diberikan guru saat membuka pelajaran membuat siswa terbawa ke suasana belajar. Apalagi siswa dapat merasakan dan melihat secara langsung maupun tak langsung keadaan masyarakat / negara yang dilanda krisis ekonomi, hukum, dll, sehingga timbullah demonstrasi (unjuk rasa). Setelah siswa terpancing dengan suasana belajar, barulah peneliti memberi tahu topik atau KD yang akan dipelajari. Namun setelah guru memberi tugas sesuai dengan model pembelajaran yang dibawakan, mulai timbul permasalahan. Berikut ini diuraikan masalah-masalah tersebut.
1) Siswa tidak mampu menyelesaikan tugas dengan waktu yang telah ditentukan,
2) Masih banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru,
3) Siswa cenderung mencatat saja tanpa diskusi pada tahap kelompok ahli,
4) Frekuensi bertanya maupun menjawab pertanyaan masih rendah,
5) Pada tahap presentasi hanya satu orang yang berani memberi saran.

Refleksi Siklus I
Berdasarkan kumpulan data yang diperoleh dari kolaborasi dengan teman sejawat serta catatan lapangan yang ada pada peneliti, ternyata sebagian besar siswa belum mampu menyelesaikan tugas dengan optimal, baik pada tahap kooperatif asal (tahap I), tahap ahli (tahap II), maupun tahap ke III.

Tingkat keaktifan siswa sangat rendah dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan yang hendak dicapai sehubungan dengan pelaksanaan tindakan ini belum tercapai secara optimal.

Menurut pengamatan peneliti kegagalan siswa tampak dengan jelas dalam memanfaatkan waktu. Siswa belum mampu memanfaatkan waktu sesuai dengan yang dialokasikan untuk setiap tahapan.

Agar siswa dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan tersebut, maka perlu diberikan perpanjangan waktu. Akibat dari perpanjangan waktu ini adalah sedikitnya waktu yang tersedia untuk kegiatan presentasi hasil kerja kelompok.
Bila dicermati, penyebab dari kegagalan siswa dalam mengerjakan tugas saat proses pembelajaran bersumber dari hal-hal berikut:
1. Siswa belum memahami tentang langkah-langkah kerja atau tahapan –tahapan pembelajaran yang harus dilalui. Misanya apa yang seharusnya dilakukan dalam tahapan I (kooperatif asal), tahapan II (kooperatif ahli), dan seterusnya.
2. Pada tahap III, ada siswa yang tidak mampu menyampaikan ilmu yang diperdapatnya dari kelompok ahli secara sistematis, sehingga teman sekelompoknya tidak dapat menyerap pelajaran sebagaimana mestinya.
3. Masih ada siswa yang suka mengganggu teman, sehingga terkendala dalam menyelesaikan tugas.
Berdasarkan permasalahan dan kegagalan di atas, maka peneliti mencarikan solusinya yaitu dengan memberikan arahan kembali kepada siswa tentang langkah-langkah kerja kelompok pada model pembelajaran kooperatif Jigsaw, sehingga kegiatan pada siklus berikutnya dapat berjalan dengan lancar seperti yang diharapkan.


B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus II

1. Perencanaan Siklus II
Pada siklus II ini dilakukan tindakan seperti pada siklus pertama. Materi pelajaran yang dibahas adalah “Kemerdekaan mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggungjawab”. Siklus kedua ini terdiri dari dua kali tatap muka dan satu kali tatap muka 2 × 40 menit. Seluruh perangkat pembelajaran disusun sesuai dengan tindakan yang dilakukan. Sedangkan rencana tindakan yang dilaksanakan adalah:
1. Menyiapkan Rencana Pembelajaran untuk dua kali pertemuan,
2. Menyiapkan wacana / tugas dalam bentuk LKS,
3. Menyiapkan format observasi aktivitas siswa dalam PBM,
4. Membagi kelompok siswa, untuk kelompok kooperatif asal terdiri dari empat orang anggota kelompok dan kelompok ahli terdiri dari lima orang anggota kelompok.

Berdasarkan hasil refleksi siklus satu, maka tindakan tambahan yang direncanakan pada siklus dua ini adalah:
1. Memberikan arahan kembali tentang langkah-langkah kerja kelompok
2. Kepada siswa, diinformasikan topik pelajaran yang akan dibahas minggu depan dengan tujuan agar siswa lebih siap lagi melakukan kegiatan pembelajaran
3. Kelompok siswa direvisi sehingga dalam kelompok tersebut benar-benar heterogen dalam berbagai hal.

2. Pelaksanaan Siklus II
Pertemuan pertama pada siklus dua ini, masing-masing nomor kepala mendapat tugas yang berbeda, yaitu:
a. Nomor kepala A membahas hakekat kemerdekaan menyampaikan pendapat secara bebas dan bertanggungjawab
b. Nomor kepala B membahas tatacara mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggungjawab di muka umum
c. Nomor kepala C membahas kewajiban POLRI setelah menerima surat pemberitahuan mengemukakan pendapat di muka umum
d. Nomor kepala D membahas tempat-tempat dan hari-hari yang tidak boleh mengemukakan pendapat di muka umum.



Kondisi riil yang dialami selama proses pembelajaran dapat dipaparkan sebagai berikut:
A. Pendahuluan (membuka pelajaran)
Siswa memperhatikan penjelasan-penjelasan guru dengan baik saat membuka pelajaran, mulai dari mengabsensi siswa, memberikan motivasi, sampai menyampaikan kompetensi dan indikator yang akan dicapai. Kemudian guru membentuk kelompok dan penjelasan kerja kelompok.

B. Kegiatan Inti
Ada tiga tahapan pada kegiatan inti ini, yaitu:
I. Tahap I (kooperatif asal)
Pada tahap ini siswa diberi wacana / tugas melalui kelompok. Masing-masing anggota kelompok mencatat dan mencari tugas yang menjadi bagiannya.
Pada tahapan ini masih ada siswa yang kurang perhatian terhadap tugasnya, namun secara keseluruhan sudah ada peningkatan.

II. Tahap II (kooperatif ahli)
Siswa yang mempunyai nomor kepala yang sama bergabung dalam satu kelompok. Masing-masing kelompok melaksanakan diskusi untuk membahas topik / materi yang menjadi tanggungjawabnya. Guru memperhatikan semua kelompok dan memberi bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kesulitan. Guru bersama observer dari teman sejawat mengamati aktivitas siswa yang sedang bekerja pada kelompok masing-masing. Pada tahap ini secara umum siswa kelihatan sudah serius bekerja, sehingga konsep pelajaran yang didiskusikan dapat dikuasai dengan baik. Selanjutnya siswa kembali ke kelompok asal untuk menyampaikan secara bergiliran materi yang sudah dipelajarinya pada kelompok ahli dengan jelas.

III. Tahap III
Siswa berkomunikasi dan berdiskusi dengan serius untuk menyelesaikan tugas kelompoknya. Siswa saling memberi dan menerima informasi untuk mendapatkan konsep pelajaran secara utuh. Selanjutnya setiap kelompok membuat laporan hasil kerjanya untuk dipresentasikan di depan kelas.

C. Kegiatan Penutup
Proses pembelajaran ditutup dengan melaksanakan diskusi kelas untuk membuat rangkuman pelajaran dan melaksanakan Post-Test untuk melihat keberhasilan siswa.


3 Pemantauan Pelaksanaan Tindakan
Berikut ini dipaparkan seluruh alat pengumpul data yang digunakan, serta hasil yang diperoleh dari data tersebut, baik data siklus I maupun data siklus II. Tujuannya agar dapat dilihat kemajuan apa yang dialami selama penelitian dilaksanakan.
1) Lembaran Observasi
Observasi dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2008 dan 29 Mei 2008. aktivitas yang diamati sama dengan siklus I, yaitu:
- Mengajukan pertanyaan,
- Menjawab pertanyaan siswa maupun guru,
- Memberi saran,
- Mengemukakan pendapat,
- Menyelesaikan tugas kelompok,
- Mempresentasikan hasil kerja kelompok.

Hasil yang diperoleh pada observasi ini dapat kita lihat pada lampiran 3 dan 4
Tabel: 4.2

Distribusi Frekuensi Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus 2 (22-05-2008 dan 29-05-2008)

No. Aktivitas yang diamati Jml. Siswa Ket.
Pert. I Pert. II
1. Mengajukan pertanyaan 7 (30%) 11 (48%)
2. Menjawab pertanyaan siswa maupun guru 8 (34%) 11 (48%)
3. Memberi saran 2 (9%) 6 (26%)
4. Mengemukakan pendapat 8 (34%) 12 (52%)
5. Menyelesaikan tugas kelompok 18 (72%) 9 (82%)
6. Mempresentasikan hasil kerja kelompok* 5 (100%) 5 (100%)

*Presentasi dalam bentuk kelompok
Dari tabel di atas terlihat sudah terjadinya perubahan yang cukup berarti untuk semua aktivitas yang diteliti. Khusus aktivitas yang ke enam, yaitu mempresentasikan hasil kerja kelompok memang tidak ada perubahan, karena presentase berdasarkan kelompok yang terdiri dari lima kelompok, sehingga yang tampil satu orang per kelompok.

Untuk lebih jelasnya gambaran perubahan antara siklus satu dengan siklus dua, lebih lanjut peneliti paparkan pada tabel berikut:

Tabel: 4.3

Pengolahan Data Lembaran Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus Satu dan Siklus Dua
No. Aktivitas yang diamati Siklus 1 Siklus 2 Peningkatan (%)
1 (%) 2 (%) Rata-rata (%) 1 (%) 2 (%) Rata-rata (%)
1 Mengajukan pertanyaan 14 27 20,5 30 48 39 18,5
2 Menjawab pertanyaan siswa maupun guru 14 32 23 34 48 41 18
3 Memberi saran 0 5 2,5 9 26 17,5 15
4 Mengemukakan pendapat 19 32 25,5 34 52 38 12,5
5 Menyelesaikan tugas kelompok 57 68 62,5 72 82 77 14,5
6 Mempresentasikan hasil kerja kelompok* 100 100 100 100 100 100 –
Jumlah (1-5) 134
212,5
78,5
Rata-rata 26,8
42,5
15,7


*Mempresentasikan hasil kerja kelompok

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa dari siklus 1 ke siklus 2. Aspek dalam mengajukan pertanyaan pada awal (pertemuan 1, siklus 1) sangat kurang sekali, yaitu hanya tiga orang siswa yang berani dari 23 siswa yang ada (14%). Kemudian dengan memberikan penjelasan-penjelasan dan motivasi dalam proses pembelajaran, maka terjadilah peningkatan aktivitas belajar pada pertemuan berikutnya. Selanjutnya aktivitas yang sangat kurang bahkan tidak sama sekali pada awal (siklus 1) yaitu dalam hal memberi saran. Menurut pengamatan peneliti hal ini terjadi karena keterbatasan ilmu dan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari. Dan yang sangat menentukan sekali adalah siswa tidak terbiasa dan tidak berani tampil untuk mengajukan pendapat, menjawab pertanyaan, apalagi memberi saran. Namun setelah penerapan model pembelajaran tipe Jigsaw ini secara perlahan timbul keberanian siswa, sehingga aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dapat ditingkatkan, yaitu pada siklus 1 rata-rata aktivitas siswa 26,8 %, pada siklus 2 rata-rata aktivitas siswa menjadi 42,5 %. Berarti terjadi peningkatan rata-rata 15,7 %.

2) Catatan Lapangan
Sebagaimana pada siklus I, pada siklus II saat membuka pelajaran secara keseluruhan siswa tertarik mengikuti pelajaran. Permasalahan yang muncul pada siklus I, pada siklus II sudah jauh berkurang. Secara rinci kondisi proses pembelajaran dan keaktifan siswa sebagai berikut:
1. Siswa sudah dapat mennyelesaikan tugas sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan.
2. Secara komprehensif siswa sudah mampu menyelesaikan konsep-konsep yang dibahas secara utuh.
3. Pada kegiatan kelompok tahap II (kelompok ahli) maupun tahap III (penyatuan hasil dari kelompok ahli), siswa sudah dapat berdiskusi dengan baik dan mencatat hasil diskusinya.
4. Frekuensi bertanya dan menjawab sudah meningkat. Bahkan muncul pertanyaan kritis, misalnya:
• Mengapa Polisi menghalangi orang yang berdemonstrasi ?
• Bolehkah kita berdemonstrasi di Istana Presiden?

Dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut peneliti berasumsi bahwa siswa cukup paham dengan materi pelajaran yang dipelajari.



Refleksi Siklus II
Sebagaimana yang dilakukan pada siklus I, pada siklus II juga dilakukan diskusi yang mendalam terhadap deskripsi data yang dipaparkan di atas. Di mana pada lembaran observasi aktivitas belajar siswa terjadi perubahan keaktifan yang cukup berarti. Pada awalnya (siklus I) siklus belum berani dan ragu-ragu untuk menyampaikan pendapat, namun pada siklus II sudah ada keberanian. Demikian juga dalam mengerjakan tugas kelompok atau diskusi, secara keseluruhan siswa sudah menunjukkan aktivitas yang baik.

3) Kuesioner
Setelah berakhirnya siklus II, diedarkan kuesioner kepada 23 orang siswa (kuesioneris). Kuesioner ini dilaksanakan untuk melihat bagaimana tanggapan siswa setelah mengikuti model pembelajaran kooperatif Jigsaw, dan juga untuk melihat apakah siswa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran PKn. Hasil dari kuesioner siswa ini dapat kita lihat pada lampiran 5.

Untuk mengetahui hasil dari kuesioner yang telah diedarkan pada siswa, di bawah ini peneliti paparkan pada tabel berikut:

Tabel: 4.4

PENGOLAHAN DATA KUESIONER
No. Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak Tidak Menjawab
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1. Apakah anda tahu tentang topik yang anda pelajari setiap belajar? 23 100 - - - -
2. Apakah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai anda pahami? 20 87 3 13 - -
3. Apakah model pembelajaran yang dibawakan oleh guru anda senangi? 23 100 - - - -
4. Apakah cara belajar yang dibawakan oleh guru mendorong anda untuk belajar? 21 91 2 9 - -
5. Apakah informasi yang anda perdapat bisa anda jelaskan pada teman sekelompok anda? 12 52 10 44 1 4
6. Anda memahami informasi pelajaran yang diberikan oleh teman? 8 35 15 65 - -
7. Anda termotivasi bertanya pada saat diskusi kelas? 22 96 1 4 - -
8. Anda termotivasi untuk menjawab soal diskusi kelas? 16 70 6 26 1 4
9. Model pelajaran yang diterapkan melatih anda untuk bertanggung jawab? 23 100 - - - -
10. Model pembelajaran yang diterapkan meningkatan minat dan aktivitas anda dalam belajar? 22 96 1 4 - -

Dari data kuesioner di atas, peneliti melihat bahwa pada umumnya siswa tahu tentang topik atau kompetensi dasar yang akan dipelajari. Ini terjadi karena setiap akan memasuki pelajaran, peneliti selalu menginformasikan Kompetensi Dasar (KD) atau Indikator apa yang akan dicapai. Selanjutnya data yang menunjukkan memperoleh hasil yang baik adalah mengenai model pembelajaran yang diterapkan. Menurut pengakuan siswa, model pembelajaran kooperatif Jigsaw disenangi oleh siswa. Sehingga membawa dampak positif terhadap yang lain, seperti dapat melatih siswa untuk bertanggungjawab. Kemudian dampak lain yang sangat berpengaruh dengan disenanginya model pembelajaran yang diberikan adalah siswa menjadi termotivasi untuk bertanya, terutama saat berdiskusi. Dengan termotivasinya siswa saat berdiskusi, akhirnya aktivitas belajar siswa menjadi meningkat, sehingga dapat mendorong siswa untuk belajar lebih baik.
Data yang menunjukkan memperoleh hasil yang rendah adalah dalam hal menyampaikan informasi pelajaran kepada teman, maupun menerima informasi pelajaran dari teman. Hal ini peneliti sadari bahwa bagi siswa SMP kelas VII, memang masih sulit bagi mereka untuk menerangkan atau menyampaikan informasi pelajaran maupun menerima keterangan atau informasi pelajaran dari teman. Hal ini terjadi karena tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh siswa masih rendah. Dengan melihat data kuesioner siswa yang telah dilaksanakan, peneliti berencana untuk dapat melaksanakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dalam proses pembelajaran selanjutnya sesuai dengan materi yang cocok.



















BAB V
P E N U T U P

A. Kesimpulan

Dari hasil pengamatan peneliti tentang aktivitas belajar siswa di kelas VII-B, SMPN 1 X Koto Singkarak, ternyata model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Ini dapat peneliti lihat dari beberapa hal sebagai berikut:
 Siswa dapat mengikuti proses pembelajaran lebih bergairah dan bersemangat,
 Timbulnya keberanian siswa dalam menyampaikan ide atau pikiran,
 Tumbuhnya rasa percaya diri siswa dalam mengemukakan pendapatnya,
 Meningkatnya rasa tanggungjawab siswa dalam mengikuti pembelajaran,
 Sangat kurang sekali siswa yang berkeliaran dan maupun mengganggu teman.

Dengan demikian berarti model pembelajaran kooparatif Jigsaw sangat cocok diterapkan dalam proses pembelajaran PKn di SMPN 1 X Koto Singkarak.

B. Saran-saran

 Sebaiknya siswa memiliki buku pokok ataupun buku penunjang, sehingga dalam melaksanakan diskusi tidak kekurangan bahan,
 Pembagian kelompok siswa sebaiknya dilakukan sebelum masuk materi pelajaran, bahkan kalau memungkinkan kelompoknya permanen
 Lembaran kerja siswa sebaiknya dibagikan beberapa hari sebelum PBM dimulai, bersamaan dengan informasi KD atau materi yang akan

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anton M Mulyono, 2000, Kamus Besar Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Depdikbud, 1999, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Depdikbud
Depdiknas, 2005, Pendidikan Kewarganegaraan, Kurikulum dan Silabus Pendidikan
Kewarganegaraan, Jakarta : Depdiknas

Depdiknas, 2005, Pendidikan Kewarganegaraan, Strategi dan Metode Pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan, Jakarta : Depdiknas

Johnson DW & Johnson, R, T (1991) Learning Together and Alone. Allin and Bacon
: Massa Chussetts
Oemar Hamalik, 2001, Proses Belajar Mengajar, Jakarta, P.T., Bumi Aksara
Sardiman, A.M, 2003, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada
Suharsimi Arikunto, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Bumi Aksara
Team Pelatih Penelitian Tindakan, 2000, Penelitian Tindakan (Action Research),
Universitas Negeri Yogyakarta

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, 2003, Jakarta : Depdiknas

Wina Senjaya, 2006, Strategi Pembelajaran Berorientasi Proses Standar Proses
Pendidikan, Jakarta : Kencana Prima

PERBAIKAN TINDAKAN KELAS (PTK)
BIDANG STUDI PKn














OLEH
................................
NIP: ..................................
NUPTK: ..........................
NOMOR PESERTA: ...........................

SD NEGERI 1 WOWOLI
KECAMATAN TOARI
KABUPATEN KOLAKA
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
 
© free template by Blogspot tutorial